Ternyata, semua calon gubernur (cagub) sama-sama tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Tidak sebagaimana yang mereka janjikan dalam pidato, tidak sebagaimana isi Komitmen Lingkungan yang mereka tandatangani, mereka semua (sekali lagi: semua) tidak menghormati kelestarian lingkungan. Sekadar contoh kecil, cobalah menyusur Jalan A. Yani Surabaya, maka hampir semua pohon selalu ada poster Cagub yang ditempel dengan cara DIPAKU. Bukan hanya pohon besar, namun pohon-pohon kecil yang memiliki lingkar batang sekitar satu genggaman tangan pun dipaku.
Memang betul, dengan ribuan poster yang dipajang di jalan raya, maka cara yang paling mudah dan murah, yaa harus dipaku di pohon yang sudah ada. Cara ini dianggap lebih praktis ketimbang harus membuat tiang kayu sendiri, yang tentunya butuh biaya lagi. Tetapi, apakah lantas mengorbankan pohon seperti itu? Kalao soal-soal kecil seperti ini dianggap remeh, akan jadi preseden untuk kasus-kasus besar nanti. Jangan beralasan, “toh pohon tidak bakal mati karena sebuah paku”. Ingat, dalam kasus lingkungan, akibat selalu terjadi secara akumulatif. Namun yang jauh lebih penting adalah, sikap dan komitmen terhadap lingkungan itulah yang harus dikedepankan. Ibarat membuang 1 (satu) bungkus permen di jalan raya, kemudian melakukan pembenaran, “toh jalanan tidak bakal banjir, got tidak tersumbat, hanya gara-gara satu bungkus kecil permen.” Apa begitu?
Masihkah mereka layak kita percaya janjinya? Masihkah mereka kita percaya komitmennta? Jangan-jangan mereka lantas menyalahkan orang-orang suruhan, yang hanya demi sekadar upah lantas memaku pohon.
Kita tunggu perkembangannya, apakah para cagub memang masih layak diharapkan kepeduliannya?
Ayo, kita monitor terus gerak langkah mereka.
Salam
Henri Nurcahyo
DIarsipkan di bawah: Pantauan